Kisah Inspiratif : Perjalanan sahabat Moh. Bakri Kader PMII Bangkalan


Moh. Bakri sang Direktur sablon PC.PMII Kabupaten Bangkalan, itulah julukan atau sebutan romantis yang di berikan oleh sahabat/i PC PMII Kabupaten Bangkalan kepada Moh. Bakri (nama asli) asal kampus Universitas Trunojoyo Madura.

Biografi Sahabat Moh. Bakri,

Nama: Moh Bakri, Kelahiran Sambas pada tanggal 10 Juni 1992, di lahirkan di sebuah salah satu Pulau di Indonesia, tepatnya di sambas Kalimantan Barat.

Cerita indah maupun susah sudah dia alami sejak kecil, orang tuanya pada saat dia masih kecil kerjaannya tidak lepas dari buruh bangunan (kuli bangunan) dan mengais rizeki di ladang orang untuk memenuhi kehidupan keluarga, berangkat Pagi Pulang Sore, panas terik matahari sudah menjadi vitamin bagi orang tua Bakri untuk tetap bekerja demi membiayai anak- anaknya mengenyam pendidikan.

Menginjak umur 9 tahun, sahabat Bakri dimasukkan ke Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Dusun Tumargeh, Lantakan Kecamatan Kokop Kabupaten Bangkalan, tidak bisa di bayangkan usia 9 tahun sudah berani dan mau masuk ke Pondok Pesantren untuk menuntut ilmu dan belajar Agama.

Dari lima bersaudara, hanya Bakri yang bisa meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saudara-saudaranya hanya bisa mengenyam bangku sekolah dasar.

Kehidupan di pondok pesantren yang ia alami bisa di katakan unik dan mengesankan, kenapa demikian? selama  sembilan tahun di pondok pesantren ia dalam satu tahun mendapatkan uang untuk makan dan jajan sebesar enam ratus ribu dan itu juga di gunakan dengan biaya sekolah dan keperluan lain, apabila uang kiriman tidak cukup untuk keperluan lain dan kadang sakit, ia tidak pernah minta kepada orang tua dan berusaha sendiri selama di pondok pesantren, selama hidup di pondok pesantren, ia berusaha dengan tekun belajar ilmu agama serta ilmu umum yang ada di pesantren dan sekitarnya, untuk mendapatkan pendidikan formal ia harus menempuh jarak tiga kilo dengan jalan kaki. 

Semangat mencari ilmu dalam diri sahabat Bakri sangat luar biasa, terbukti setelah lulus dari pondok pesantren ia komitmen dalam dirinya untuk meneruskan ke Perguruan Tinggi, berbagai problem dan rintangan banyak menghampiri niatan suci sahabat Bakri, mulai dari orang tua yang tidak mendukung, biaya tidak ada, dan orang orang terdekat khawatir takutnya nanti tidak bisa terus melangkah ketika kuliah. namun tekad bulatnya untuk mencari ilmu pengetahuan ke jenjang yang lebih tinggi begitu besar dan bersemangat, ia berusaha meyakinkan keluarganya dan akhirnya di perbolehkan dengan berat hati.

Pada tahun 2012 ia memberanikan diri untuk menginjakkan kakinya di perguruan tinggi, berbagai program ia telusuri agar bisa masuk ke perguruan tinggi, pada awalnya ia mencoba lewat program pondoknya namun gagal, lalu mencoba jalur Mandiri ia memilih kampus UTM sebagai sasarannya untuk Kuliah, keraguan menghantui fikirannya, melihat latar belakangnya yang jauh dari kesempurnaan membuatnya pesimis untuk di terima di perguruan tinggi, namun Allah SWT maha sempurna dan maha pemberi terhadap hambanya yang mempunyai niatan suci dan sungguh-sungguh.

Pada saat pengumuman mahasiswa yang di terima, nama Moh. Bakri tercantum dengan keterangan di terima, ia kaget dan langsung sujut sukur, setelah memasuki arena kampus, kehidupannya harus bisa menyesuaikan dan mampu mengatur kehidupannya agar bisa bertahan hidup di perantauan yang menyandang status mahasiswa di Jurusan Teknik.

Berbagai cara di lakukan untuk bisa bertahan hidup, kalau urusan bayar kuliah alhamdulillah dapat beasiswa.

Saat semester 1 masih lontang-lantung dan untuk makan pun kadang kesulitan, namun Allah rizkinya sangat luas dan sempurna, menginjak semester 2 ia mulai bekerja di warung nasi milik orang yang ada di sekitar kampus, pagi sampai sore kuliah, sore sampai jam 1 malam bekerja, jam 3 pagi bangun dan berangkat kepasar untuk belanja kebutuhan warung, setelah datang dari pasar ia pun tidak santai dan enak enakan tiduran, ia pun harus melaksanakan kewajibannya sebagai mahasiawa, hal itu di jalaninya  sampai semester 4

Dalam masa semester 4 Bakri juga sempat menjaga warung yang menjual gorengan kopi dan minuman lainnya

Menginjak semester 5 ia oleh sahabat”nya di minta untuk bekerja di Digital Printing (GP) sampai semester 7,  untuk menopang kebutuhan hidupnya ia hanya cari di jalanan sekitar kampus dan tidak pernah sepeserpun selama kuliah minta terhadap orang tuaya sampai sekarang, saat ini sahabat Bakri di percaya oleh sahabat-sahabat PC PMII Bangkalan mengelola usaha sablon, sampai saat ini, " ia mengatakan, jangan pernah patah semangat dalam mencari ilmu, apalagi urusan bisa bermanfaat terdadap sesama, yakinlah, allah maha segalanya. itulah ungkapan kecil yang sering di lontarkan kepada sahabat-sahabat ketika lagi mengerjakan sablon.

Ada satu kata yang membuat penulis terinspirasi, ia mengatakan " mencari ilmu itu wajib, namun dalam mencari ilmu modal ikhlas harus di kedepankan, biarpun saya hanya sebagai tukang sablon di PC PMII Bangkalan, yang hasil dari penjualannya untuk Kepentingan organisasi, namun saya bangga biasa bekerja disana dan bisa belajar banyak pengalaman dari sahabat/i yang ada di Cabang. Biarpun hanya nyablon, tapi jiwa PMII saya tetap ada dan menjadi penyemangat saya meraih cita-cita dan bisa membanggakan orang-orang yang ada di sekitar saya terlebih orang tua dan masyarakat ( hasil ngobrol santai dengan sahabat Bakri, pada hari jumat, 10/03/2017 di kantor Cabang PC PMII Bangkalan).

Dari ungkapan di atas penulis banyak terinspirasi dan termotifasi  dan mengambil pelajaran dari perjalanan seorang sahabat yang serba sederhana ink baik dari segi penampilan, cara bicaranya yang kalem, tingkah lakunya dan kehidupannya yang sederhana, selain ia hanya nyablon, tapi budaya membaca, diskusi serta menyelami ilmu pengetahuan tetap ia jalani sebagai rutinitas dan tradisi eksplorasi pengetahuan, walaupun sudah semester akhir, ia mau belajar kepada sahabat/i yang  ada dan mau berkumpul dengannya.kemauan dan keinginan untuk tau dalam ilmu apapun ia tampakkan, malah dia sering berpesan, jangan pernah malas untuk membaca, karena membaca pintu awal kita mengetahui, jangan pernah untuk mencoba, karena kita tidak akan tau rasanya salah dalam melakukan, jangan takut gagal, karena kegagalan adalah awal kesuksesan.

Mari berproses bersama dan pantang putus asa, hidup hanyasatu  kali jangan sampai di sia siakan.


Penulis : Syahril Abdillah (Ketua II PC PMII BANGKALAN)
Editor : Ahmad Sayadi (Koordinator Biro Pengembangan Media Dan Informasi PMII Bangkalan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentengi Ancaman Radikalisme PMII Bangkalan Gelar Gerakan PMII Mengaji

Prihatin Kondisi Bangkalan, Aktivis PMII Demo Bupati

Muspimcab PMII Bangkalan Diharap Membentuk Sistem Yang Baik