Refleksi Cita-Cita PMII Dan Gerakan Intelektual
“Terbentuknya pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia”
Membaca kembali dan menginterpretasi ulang cita-cita besar yang termaktub dalam tujuan PMII adalah kewajiban individu yang harus dilakukan oleh anggota dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. kalimat yang menjadi pembuka dari wacana ini di atas adalah tujuan yang sebagaimana termaktub dalam AD/ ART PMII BAB IV pasal 4 yang fenomenanya pada saat ini masih banyak anggota atau kader pmii melupakannya.
Jika kita menilik sedikit secara historis, PMII hadir ke hadapan mahasiswa Nahdhiyyin akibat dari kegalauan dan keinginan mahasiswa NU untuk memiliki tempat berproses dan beraktifitas pada saat awal pra pembentukannya. dikarenakan wadah berjuang dan berproses yang mengusung cita-cita luhur bagi mahasiswa NU di perguruan tinggi pada saat itu belum dimiliki sama sekali. hanya saja ada Ikatan Pelajar Nahlatul Ulama’ (IPNU) yang masih terfokus pada tingkatan pelajar di sekolah. Tidak larut daripada itu Usaha-usaha pembentukan bermunculan, departemen perguruan Tinggi dibentuk dibawah IPNU. Organisasi mahasiswa NU yang sekopnya lokal bermunculan. Hingga kemudian terbentuk sebuah organisasi yang bernama PMII, semuanya membutuhkan proses dan usaha yang begitu panjang dari para pendirinya.
Era sekarang Pada saat cita-cita pendahulu, dan tujuan dalam organisasi hanya dijadikan slogan kosong oleh mahasiswa pergerakan. Maka dapat dikatakan bahwa dosa sejarah dan dosa organisasi ditanggung oleh kader tersebut. Karena cita-cita bukan hanya mimpi, bukan hanya sebagai adagium yang tak dihormati, harus ada usaha yang dilakukan untuk mencapainya. Harus ada gerakan untuk menindaklanjutinya.
Fenomena kader yang terjadi saat ini, terkadang sedikit berbeda, salah satu contoh adalah tidak pelak telah berlalu masa-masa transisi kepemimpinan dalam organisasi sebut saja intra kampus, transisi kepemimpinan yang hakikatnya adalah mencari pemimpin baru dalam suatu organisasi mahasiswa kampus malah hanya dijadikan sebagai ajang pertunjukan dan pagelaran kekuasaan bendera-bendera extra kampus,tak pelak adalah organisasi seperti PMII ikut andil dan berperan besar di dalamnya.
Organisasi-organisasi yang sewajarnya merupakan penggerak mahasiswa dalam rangka pengkaderan yang mempunyai cita-cita kebangsaan, keislaman dan keindonesiaan , serta mempunyai semangat juang dalam ranah intelektual. seketika berubah wujudnya menjadi serigala hitam yang siap memangsa, semacam parpol-parpol yang haus akan kekuasaan, sehingga berbagai macam cara dilaksanakan, agitasi –agitasi dan propaganda dari masing-masing organisasi dilancarkan dengan harapan dapat menuai massa yang banyak.
secara historis padahal dapat ditelaah bersama bahwa organisasi-organisasi tersebut terlahir bukan dalam rangka mempolitisir kampus sebagai ranah pencapaian kekuasaan seperti yang menjadi fenomena akhir dekade ini. Bahkan secara pemahaman tidak dipungkiri banyak sekali mahasiswa dan kader-kader dari organisasi pergerakan tersebut paham betul akan hal tersebut. Tetapi karena egosentris dan pemahaman yang tidak diindahkan sehingga hal itu dijadikan sebagai hal yang sangat arogan dalam pergerakan mahasiswa.
Dalam dinamika organisasi hal-hal semacam di atas memang tidak ada larangan ataupun bukan hal yang diharamkan dalam bahasa syariatnya. Akan tetapi akan sangat miris jika hal-hal yang berbau politis itu dijadikan sebagai tujuan utama dan harus mengesampingkan tujuan awal dan niat baik yang semula ada.
mengembalikan PMII sebagai Gerakan Intelektual?
Pada tahun 1990-an sampai saat ini peran mahasiswa utamanya PMII seakan tidak cukup memuaskan apabila tidak disimplifikasi dengan kata-kata gerakan. Gerakan sebagai makna semantik dari prototipe dinamis, penuh idealisme, penuh dengan dedikasi, tanpa kompromi, solid, commited, militan dan terorganisasi
Gerakan intelektual bukanlah satu hal yang baru, akan tetapi banyak dilupakan utamanya oleh para aktivis-aktivis mahasiswa di perguruan tinggi. Padahal ketika kita secara umum membaca Tri dharma Perguruan tinggi poin pertama yang tidak dapat ditinggalkan oleh civitas akademika yang dalam hal ini salah satunya mahasiswa adalah pendidikan dan pengajaran yang tidak jauh dari pemahaman dan peningkatan kapasitas intelektual.
Hal tersebut juga senada dengan Tri Motto PMII yakni Dzikir, Fikir Amal Shaleh. Dimana Fikir tidak terlepas dari bagian yang harus dioptimalisasi setelah kualitas primordial manusia sebagai hamba Tuhan adalah wajib mengabdi dan menghambakan diri pada Allah. Hal tersebut terkandung dalam makna dzikir, sedangkan Fikir adalah bagian penting karena disana sebagai differensia atau pembeda absolut dari Makhluk Tuhan yang lainnya. Dari sana juga sudah tercermin keinginan akan cita-cita PMII agar kualitas kader PMII adalah berintelektual.
Bahkan tri khidmat PMII jika kita bisa memaknai bahwa khidmat adalah berbicara pengabdian setelah masuk dan sah sebagai anggota, kader, pengurus PMII aspek “Intelektual” juga menjadi poin penting dan utama di dalamnya.
Kembali pada tujuan PMII sebagaimana awal, yang termaktub pada AD/ ART, ada garis besar tujuan yaitu “berilmu serta cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya” hal ini juga menjadi alasan yang sangat penting bahwa harakah (gerakan) PMII harus mengembalikan dirinya pada gerakan intelektual. Karena selain sebagai misi dari setiap warga pergerakan, gerakan intelektual juga merupakan kewajiban dari setiap insan yang bernama Umat MUHAMMAD SAW. Oleh sebab itu PMII kemudian menempatkan Ulul Albab sebagai Eka Citra Diri PMII yang pemahamannya sangat luas.
Gerakan Intelektual saat ini banyak sekali macamnya dan dapat dilakukan di PMII salah satunya dengan membangun budaya membaca, diskusi, mengkaji berbagai persoalan,membuat penelitian, membudayakan menulis dan lain-lain. Hal itu menjadi salah satu bagian kecil yang harus dikembalikan dan ditradisikan di PMII.
Pentingnya hal tersebut karena fakta sejarah mengatakan bahwa gerakan besar dan perubahan yang besar di dunia ini, lahir dari teori, pengetahuan dan pemikiran-pemikiran yang besar. Dari orang-orang yang mempunyai komitmen intelektual dan kemudian diaplikasikan pada dunia yang nyata. Dan PMII harus melakukan hal itu juga. Hidup PMII, Dirgahayu PMII-ku.
Penulis : Oleh. Ach Zahid
Merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura, sekaligus Kader PMII dan Pengurus Rayon As-Shiddiq Komisariat Universitas Trunojoyo Madura.

Komentar
Posting Komentar